Jamur Pisang

RHD. Jamur dalam bahasa Makassar disebut Pippisi.  Kita mengenal banyak jenis jamur, sring diklasifikasi  secara sederhana melalui tempat tumbuh, warna, dan manfaatnya. Sebagian dari kita membedakan jamur secara sederhana, dapat dikonsumsi dan tidak untuk dikonsumsi. Jamur yang dihindari untuk dikonsumsi lazimnya karena mengandung zat berbahaya bagi tubuh manusia, warnanya sering mencolok terang sebagai sinyal tumbuhan itu berbahaya.

Secara kultural jamur  telah dimanfaatkan ribuan tahun oleh umat manusia, dengan tujuan sebagai penawar (obat) maupun sumber pangan. Berbagai hasil penelitian membantu kita mengetahui lebih banyak rahasia  tentang jamur. Diantaranya  bisa meningkatkan produksi dan aktifasi sel-sel darah dalam tubuh manusia.

Jamur mengandung banyak zat yang dibutuhkan tubuh kita  seperti kandungan protein yang tinggi,  kandungan karbohidrat, vitamin (B1, B2, B3, B5, B7,  hingga C),  kaya mineral, kalsium, zat besi, Mg, fosfor, K, P, S, Zn, asam folat yang tinggi untuk mengurangi anemia. Jamur juga mengandung zat glucan yang bermanfaat sebagai antioksi,  anti tumor,  meningkatkan imunitas,  anti virus , antibakteri, dan membunuh cacing. Sangat baik untuk pencernaan karena kaya serat. Jamur juga baik untuk perawatan tubuh karena mengandung pleuran yang berfungsi sebagai zat untuk perawatan wajah,  sebab mengikat air untuk  melembabkan kulit dan berguna sebagai anti inflamasi.

Informasi terbaru  beberapa jamur diketahui mengandung zat flofastin  yang tinggi sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Salah satu jamur yang mengandung banyak flofastin yakni jamur pisang. Jamur jenis ini tumbuh di bonggol pisang baik yang telah potong batangnya karena dipanen maupun yang masih utuh berdiri. Mengandung banyak air, itu sebabnya cepat membusuk dan layu. Usianya sekitar tiga hingga lima hari sejak muncul hingga mekar.

RHD. Jamur pisang (pippisi unti) yang tumbuh rutin di Rumah Hijau Denassa (RHD) salah satu sumber pangan penuh manfaat. (Foto: Darmawan Denassa).

RHD. Jamur pisang (pippisi unti) yang tumbuh rutin di Rumah Hijau Denassa (RHD) salah satu sumber pangan penuh manfaat. (Foto: Darmawan Denassa).

Jamur pisang berwana coklat tua pada ujung pileus (tudung) dan putih kecoklatan pada seluruh lingkar tudung. Seperti kebanyakan jamur, saat mekar akan tampak seperti payung. Dibalik tudung itu terdapat bilah dan kumpulan bilah tersusun rapi dan terasa lembut jika disentuh.

Jamur pisang tumbuh dengan menyerap zat organik dari batang pisang yang banyak mengandung air. Jamur kemudian mengambil zat  yang dibutuhkan melalui hifa dan miseliumnya. Cuaca lembab dalam jangka waktu panjang akan memudahkan tumbuhan ini berkembang dan mudah ditemui.

Bagian jamur pisang yang konsumsi sama dengan ragam jamur lain yang dapat dimakan, yakni tudung hingga batang (stipe). Sejak kecil saya telah dikenalkan dengan jamur ini. Sangat muda ditemui, karena hanya akan tumbuh di bonggol atau batang pisang yang mulai lapuk. Bisanya dibuat sayur bening (bala-balante: Makassar) dicampur dengan aneka daun segar. Sejauh ini belum ada usaha membudidayakan jamur jenis ini, itu sebabnya tidak pernah diperjualbelikan, selain sifatnya yang cepat layu. (Darmawan Denassa).

There are no comments yet, add one below.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*