Konservasi untuk Ekotourism

RHD.  Mahasiswa Manajemen Kepariwisataan angkatan 2013, Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar melaksanakan Tourism Youth Camp pada 22-24 Mei 2015. Kegiatan berlangsung dalam dua bentuk dan  tempat  pelaksanaan, kegiatan pertama menghadirkan beberapa pembicara dilaksanakan di Kampus Akpar  Makassar di Tanjung Bunga. Kedua camp yang dilaksanakan di Hutan Pendidikan Unhas di Bengo-bengo Maros.

Kegiatan di kampus  Akpar hadir sebagai narasumber Darmawan Denassa pendiri Rumah Hijau Denassa (RHD), Sabriadi perwakilan Dinas Pariwisata Makassar, dan Dr. Farid Said Pembantu Direktur IV Apar Makassar.

Darmawan Denassa dalam sesi Peran Penting Konservasi untuk Keberlanjutan Ekotourism (22.05.2015)

Darmawan Denassa dalam sesi Peran Penting Konservasi untuk Keberlanjutan Ekotourism (22.05.2015)

Kegiatan diikuti 50-an peserta berasal dari puluhan SMA di Sulsel. “Kegiatan ini dikelola teman-teman di  manajemen kepariwisataan” kata Nanda.  Ketua Panitia Ahlan Vahlevi menyampaikn tujuan kegiatan untuk memperkenalkan lebih awal kepada adik-adik calon lulusan SMA tentang  pariwisata.

Ekowisata jika dikelola dengan baik  merupakan jalan menjadikan bisnis wisata akan keberlanjutan, khusunya meminimalisir peluang rusaknya alam dan eksostem pada destinasi wisata. Kepedulian pengelola wisata dan wisatawan tidak sebatas ketika mengunjungi saatu jenis objek wisata, seluruh destinasi wisata  berkaitan dengan lingkungan baik yang digolongkan alam maupun buatan. Demikian pemaparan awal Denassa, ketika ditanya oleh Nadya yang memandu diskusi tentang apa pentingnya konservasi dan wisata.

Konservasi secara luas membuka ruang dan peluang semua pihak terlibat, dengan tanggung jawab lebih besar pada pengelola tempat atau biro perjalanan dan wisatawan. Jika destinasi wisata terjaga bahkan kualitasnya semakin baik maka akan semakin banyak memberikan dampak positif. Akan lama dikunjungi, semakin dikenal luas, bahkan pengunjung yang telah datang berkali-kalipun akan selalu ingin datang jika ada hal baru. Konservas juga maknanya lebih luas, bukan hanya pada wisata alam atau buatan seperti yang kami kelola di RHD, destinasi wisata berbasis kultur pun jika ingin terus bertahan harus dikonsrvasi, jelas Denassa sebelum memaparkan latar belakang RHD dan usaha yang terus dilaksanakan.

Ada trend baru dalam bisnis pariwisata global beberapa tahun terakhir dengan tren semakin diminati hingga puluhan tahun kedepan. Ekowisata, dimana wisatawan ingin menemukan hal luar biasa, unik, informasi baru dari kekhasan alam, ekosistem, hingga kaitannya dengan budaya suatu entitas hingga etnik dan bangsa.  Secara umum seluruh komponen sosial harus berperan menjaga kekeyaan itu. Namun saya tekankan anak-anak muda harus mengambil peran lebih awal dan lebih besar lagi. Itu sebabnya kami mendirikan RHD akan bisa menyelamatkan flasma ntfah, tradisi, dan nilai luhur yang kita miliki, jelas Darmawan Denassa.

Kegiatan ini diakhiri menjelang waktu shala Jumat dimulai. Sebelumnya beberapa peserta ikut berinteraksi. (*)

 

There are no comments yet, add one below.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*