Menyusuri Batas Kampung

RHD. Salah satu kegiatan di Rumah Hijau Denassa (RHD) yakni Kelas Komunitas (KK) merupakan kegiatan yang bertujuan mendorong peserta didik memahami keadaan sekitar mereka, didorong habit antri, jujur, saling menghargai, peduli lingkungan, buang sampah di tempatnya, serta belajar budaya dan tradisi lokal. Peserta juga diberikan ruang berinteraksi dengan pengunjung RHD dari berbagai negera dan bangsa.

KK mulai berlangsung sejak 16 Agustus 2011 lalu. Diawali dengan  kegiatan  Outing Class awal tahun 2011 yang dilaksanakan RHD pada lima sekolah mitra Pendidikan Partisipatif menuju Pendidikan Berkualitas di Kabupaten Gowa. Outing Class bertujuan menghubungkan materi ajar di kelas dengan keadaan sekitar sekolah sehingga lebih dipahami oleh peserta didik. Kegiatan ini juga dilakukan untuk mendorong guru menerapkan contextual teaching and learning (CTL).

Outing Class dilaksanakan di sekitar sekolah dan di RHD. Ketika dilaksanakan di sekitar sekolah, peserta akan diajak mengelili kampung sambil mengenali tanaman yang ada dan berinterakis dengan warga. Jika dilaksanakan di RHD peserta akan belajar  menggunakan tanaman koleksi dan perpustakaan di RHD. Kegiatan ini juga diperkaya dengan metode interaksi untuk menghubungkan para peserta dengan potensi sekitar mereka. Outing Class kini menjadi salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan RHD untuk mendorong anak-anak di sekolah yang jauh dari RHD agar belajar dan didorong peduli lingkungan dan memahami sekitar mereka.

Untuk KK yang lebih intens dilaksanakan, dua tahun berjalan, kini semakin banyak peserta terlibat baik dari jumlah dan tingkatan sekolah maupun jumlah desa dan kelurahan. Outing Class telah diselenggarakan di tujuh sekolah pada tujuh desa di Kecamatan Bontonompo. Sedangkan Kelas Komunitas kini diikuti anak-anak usia SD hingga SMA dari tujuh sekolah yang berasal dari lima desa dan kelurahan.

Outing Class dan KK masih secara gratis diselenggarakan RHD. Peningkatan administrasi dan pelibatan orang tua menjadi tantangan untuk kegiatan yang terus dicari jalan keluarnya oleh pengelola dan relawan.

Selain memanfaatkan fasilitas di RHD KK rutin juga mengunjungi beberapa tempat seperti pantai, gunung, sawah, sungai, dan kampung-kampung untuk mendorong tercapainya tujuan kegiatan. Seperti halnya kegiatan yang dilaksanakan pada Ahad, 1 September 2013. Dimana 25 orang peserta KK dari tiga desa kelurahan diajak menyusuri batas Gowa dan Takalar di Kelurahan Kalaserena.

Kelas Komunitas (KK) Rumah Hijau Denassa (RHD) Mengunjungi Batas Gowa dan Takalar.

Kelas Komunitas (KK) Rumah Hijau Denassa (RHD) Mengunjungi Batas Gowa dan Takalar.

ikatte pasikolaya, linta-lintaki ambangung, nalinta todong taksungke nawa nawanta…,                                                                                                       Bait lagu anak-anak dalam bahasa Makassar ini berulang-ulang dinyanyikan Kelas Komunitas Rumah Hijau Denassa (RHD) dalam kegiatan menyusuri Kampung Kalase’rena dan Balaburu (1/9/2013), yang menjadi batas Gowa dan Takalar.

Terdapat sebuah Sungai kecil di timur Bontonompo bernama sungai Giring-giring yang menjadi pemisah administratif Gowa dan Takalar. Kelas Komunitas (KK) Rumah Hijau Denassa melewati akhir pekan Ahad, (01/09/2013) dengan menyusuri batas kedua kabupaten sambil belajar.

Perjalanan dimulai dengan berkumpul di depan Masjid Nurul Huda Kalase’rena, pserta kemudian berangkat bersama secara tertib dengan berbaris rapi pada pukul 07 pagi. Disepanjang perjalanan mereka diperkenalkan beberapa tanaman lokal oleh Darmawan Denassa, pendiri RH

Pada beberapa tempat mereka duduk istirahat sambil belajar dan berinteraksi. Seperti duduk dan makan bersama di rumah peristirahatan petani di tepi sawah dan melepas lelah dengan bermain air di sungai. Pada saat mereka istirahat dan bermain mereka belajar beapa materi seperti cara memperknalkan diri dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Menggambar sekitar mereka, serta belajar kategori sampah.

Perjalanan KK ditemani tiga orang pendamping dari RHD yakni Hasamadani Ahmad, Kurniawati, dan Hendran, dan sepanjang perjalanan mereka ditemani Denassa. Untuk menjaga semangat selain mendapat informasi baru tentang tanaman, penegtahuan bahasa, sampah, batas wilayah, dan seni peserta diayak menyanyikan lagu-lagu lokal bertema anak-anak, seperti Makrencong-rencong dan Pasikolaya. (*)

There are no comments yet, add one below.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*