Melintasi Kaloro dan Pematang Dua Kampung

RHD. Rumah Hijau Denassa (RHD)  melaksanakan Outing Class  bersama peserta didik Sekolah Dasar Inpres (SDI) Salekowa, Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Sulawesi-Selatan.

BELAJAR DI SAWAH. Outing Class Rumah Hijau Denassa (RHD) belajar di sawah Salekowa

BELAJAR DI SAWAH. Outing Class Rumah Hijau Denassa (RHD) belajar di sawah Salekowa

Kegiatan diawali di Romanglompoa tepat di halaman sekolah.  Penjelasan kegiatan saya sampaikan dilanjutkan dengan permainan. Marina menari di atas menara, mereka menyanyi sambil menggerakkan tangan ke bahu dan ke atas kepala. Mereka cepat menyayikan lagu dan menirukan gerakan meski baru mendengarnya.  Ini stimulan yang baik, untuk mengajak mereka fokus dan mementik tubuh dan pikiran saling terkoneksi lebih optimal. Permainan yang juga selalu dimainkan Kelas Komunitas sebelum belajar atau untuk merilekskan keadaan.  Peserta kemudian kami ajak berbaris lalu berhitung, kemudian dibagi dalam dua kelompok. Masing-masing kelompok melewati jalur berbeda dan akan bergabung kembali di sawah yang terletak di kampung Salekowa. Dalam perjalanan ini peserta akan berinteraksi dengan tanaman,  warga, dan apa saja yang ditemui. Mereka juga wajib memungut sampah plastik yang mereka temui dan memasukkannya ke dalam karung yang telah disiapkan. Tertib dan antri harus mereka lakukan sepanjang kegiatan.

Kelompok pertama melintasi bagian selatan sekolah dimana saya bergabung dengan mereka didampingi Syamsu Rijal. Kelompok ini melintasi titian dari batang bambu di atas Kaloro, saluran air besar

yang berfungsi sebagai pembuangan air iringasi. Tanaman seperti Taeng, Belimbing, Rumbia, Kayu Sanga, dll menjadi bahan ajar menarik.  Saya dideskripsikan tanaman dengan mengaitkan nama, fungsi, kisah, dan mitos yang melingkupinya.

Kelompok kedua dipandu Arman dan dua orang guru melintasi bagian utara sekolah melewati jalan kampung dan melalui jembatan di jalan raya yang menghubungkan Galesong. Kelompok ini berhasil mengumpulkan sampah plastik lebih banyak.

Kedua kelompok bertemu di sawah dekat Bantilang. Dua puluh lebih peserta kemudian menyatu membentuk satu kelompok. Peserta berasal dari kelas satu hingga enam dan mereka tinggal di kedua kampung ini.  Mereka tidak kuat menyembunyikan ekspresi bahagia mengikuti metode belajar sambil bermain dengan outing class, yang sedang berlangsung. Saya lalu tanya mereka: siapa yang senang belajar dengan jalan-jalan? Semua serentak mengangkat tangan dan setengah berteriak “sayaaa”. Sesungguhnya, sebagian rute yang mereka lalui merupakan jalan yang hampir setiap mereka lewati. Hamparan sawah dan tanaman setiap hari mereka saksikan. Bedanya pagi ini mereka belajar! Aktifitas yang biasanya mereka dapatkan di dalam ruang di atas bangku bertumpu pada meja.

Di sawah mereka tidak lupa foto bersama. Lalu kami mengajak mereka melanjutkan perjalanan dimulai dengan memperhatikan susunan batu bata yang sedang dibakar. Kepulan asap keluar dari atap Bantilang yang terbuat dari daun Nipa. Bara api membara dari batang-batang pohon yang telah dikeringkan di tengah liang yang disebut mata pallu. Ini kesempatan baik mengajak mereka  berinteraksi.  Saya kemudian menjelaskan proses pembuatan batu bata hingga pasca pembakaran, saya tekankan ke mereka tantangan kelestarian lingkungan khususnya hutan dan pohon dengan penggunaan kayu sebagai bahan bakar dalam proses produksi.

Peserta, guru, dan pendamping lalu berjalan ke arah barat menyusuri lorong kampung yang separuhnya telah dipasangi paving block dan selebihnya masih jalan tanah. Peserta saya ajak berhenti dan memperhatikan sebatang pohon berbatang putih dengan bercak putih lebih terang dari batangnya. Pohon ini cukup besar dalam ukuran jenisnya apalagi di tengah kampung dataran rendah. “Ada yang tahu, pohon apa ini?” tanyaku. Peserta memperhatiakn lebih seksama  pohon yang saya pegang, sebagian saling memandangi. Guru dan pendamping juga terlihat penasaran. Hingga beberapa lama tidak ada yang bisa menebak. “Pohon ini salah satu penghasil rempah yang biasa digunakan ibu-ibu di dapur” saya coba beri kunci agar bisa fokus menebak. Mereka kembali bertatapan dan berusaha mencari tahu. Namun belum terutarakan satu nama tanaman penghasil rempah. “Baik, adik-adik bisa diperhatikan dengan seksama, pohon ini bernama latin Aleurites moluccana dalam bahasa Makassar dinamakan Sapiri dan bahasa Indonesia disebut Kemiri” setelah menyebut nama pohon, para peserta, guru, dan pendamping hampir serentak menjawab ‘ooh’. Pohon ini sudah jarang ditemukan di kampung-kampung, “kita beruntung di kampung kalian masih hidup kemiri, karenanya kita harap bisa dijaga”.

Tidak jauh dari pohon Kemiri terdapat aktifitas pembuatan batu bata di atas tanah yang sekelilingnya ditumbuhi rumpun-rumpun Bambu. Peserta kemudian diminta menuliskan sesuatu, seperti puisi, cerita, atau menggambar apa saja. Setelah menulis mereka membuka bekal masing-masing lalu makan bersama.  Aktifitas makan ini diselingi dengan saling berbagi beberapa anak yang membawa bekal lebih memberikan sebagian bekalnya pada anak yang tidak membawa bekal.

Istirahat sejenak setelah maka, perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyusuri sawah bagian barat kampung. Empat petak sawah seperti memisahkan bagian timur dan barat Salekowa. Peserta, guru, dan pendamping melintasi pematang dengan kiri dan kanan dipenuhi hamparan hijau pada setinggi  50 cm.  Mereka malantunkan lagu anak-anak Makassar yang masyur, Battu Ratema ri Bulang.

Perjalanan berlanjut hingga bagian barat terakhir Salekowa, lalu memutar ke arah utara menyusuri samping rumah penduduk dan masjid sebelum tiba di jalan raya.  Mereka kemudian berbaris dengan rapi kembali ke sekolah masih menyanyikan lagu anak-anak yang lain. Ikatte Pasikolaya, Linta-lintaki ambangung, nalinta todong, nalinta todong, taksungke nawa-nawanta.

Darmawan Denassa (pendiri RHD).

There are no comments yet, add one below.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*