Siswa SMA Muhammadiyah 9 Makassar Dikenalkan Pewarna Alami dalam Budaya Nusantara

RHD. SMA Muhammadiyah 9 Makassar melaksanakan Outing Class di Kebun Denassa (Denassa Botanical Garden), pada Sabtu 19 Agustus 2023. Kegiatan ini dikuti 40 orang peserta didik dari kelas 10-12 didampingi 10 orang guru. Mereka mengikuti beberapa kegiatan dalam proses belajar di Kebun Denassa, salah satunya belajar keanekaragaman hayati (kehati) dimana sesi ini mereka dikenalkan beberapa spesies tanaman yang dimanfaatkan sebagai pewarna dalam budaya dan tradisi pada masyarakat Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja (Bugis-Makassar) serta tradisi etnik lain di nusantara.

RHD. Siswa SMA Muhammadiyah 9 Makassar Dikenalkan Pewarna Alami dalam Budaya dan Tradisi Nusantara di Kebun Denassa (19/08/2023)

Sesi belajar  kehati dipandu langsung Darmawan Denassa, pemilik Kebun Denassa dan Rumah Hijau Denassa (RHD), diikuti dengan sangat antusias para peserta outing. “Adik-adik semua, tanaman ini merupakan salah satu pewarna paling mahal di dunia, nama ilmiahnya Indigofera tinctorioDenassa mulai mengisahkan cerita tentang pewarna alami dari tumbuhan. Tanaman ini sejak ratusan tahun lalu digunakan di Ammatoa, Kajang, Bulukumba sebagai pewarna benang yang akan ditenun menjadi pakaian yang mereka kenakan, demikian potongan penjelasan Denassa tentang spesies ini.

Denassa juga mengenalkan jenis pewarna lain seperti Sappang (Caesalpinia sappan L.) yang dimanfaatkan sebagai pewarna air dalam budaya Bugis – Makassar dan kultur dibeberapa etnis di nusantara. Air yang diberi potongan kayu Sappang, dipercaya bermanfaat bagi kesehatan “Bisa membantu mengurangi dampak negatif pada kesehatan dari makanan yang kita konsumsi” kata Denassa.  Jenis ini telah dikonservasi  di RHD sejak 2009 silam dan dikembangkan dalam jumlah 400 individu di Kebun Denassa pada tahun 2020.

RHD. Denassa memperkenalkan Beberapa Spesias Rumput yang Dimanfaat Masyarakat Nusantara Sejak Dulu (19/08/2023)

Diarea konservasi pewarna alami ini, Denassa mengenalkan lima spesies yang berfungsi sebagai pewarna pakaian, makanan, dan air. Peserta kemudian diajak mengenal beberapa spesies penawar (obat) dalam budaya Bugis – Makassar. Diakhir sesi seperti biasa, Denassa menitipkan pesan pentingnya menyelamatkan kekayaan hayati, mempelajarinya, dan memanfaatkan secara berkelanjutan agar lestari dan menjadi salah satu sumber kesejahteraan bagi bangsa. “Kakayaan hayati kita bukan hanya memenuhi kebutuhan kita sebagai pemimpin di muka bumi, mereka kita butuhkan lebih dari itu. Mari kita muliakan mereka” pesannya■

There are no comments yet, add one below.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*